Saudaraku para pembaca yang budiman, jika anda telah mengetahui ini, anda akan mendapati betapa jauhnya orang-orang pada masa sekarang dari Sunnah Nabi shollallohu alaihi wa sallam. Betapa banyaknya mereka membuat-buat hari raya-hari raya bid’ah yang Alloh tidak menurunkan penjelasannya. Dan kebanyakannya baik berupa ikut-ikutan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, atau mengikuti ahlul bida’ wal ahwa’, ataupun yang tidak diketahui asal usulnya. Kemudian jika kita perhatikan dan kita pelajari, kita akan mendapatkan bahwa makna hari raya dalam Islam tidak ada bandingannya dengan hari raya-hari raya lainnya yang diada-adakan, yakni hari raya yang syar’i merupakan waktu yang agung dan mulia yang memiliki makna yang besar; setelah dilaksanakannya puasa, sholat, i’tikaf, membaca al-Qur’an, menghidupkan lailatul qodr yang lebih baik dari seribu bulan, menyambung silaturahmi, berbuka puasa, zakat fithri dan waktu-waktu lainnya yang mendekatkan diri kita kepada Alloh, kaum muslimin berbahagia dengan ketaatan mereka kepada Robb mereka, maka datanglah Iedul Fithri setelah ibadah-ibadah yang agung ini.