.. إِنَّكَ لا تَهدى مَن أَحبَبتَ وَلٰكِنَّ اللَّهَ يَهدى مَن يَشاءُ ۚ وَهُوَ أَعلَمُ بِالمُهتَدينَ ..

"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu sayangi, tetapi Allah memberi petunjuk
kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk." (AlQasas 28: 56)

Turunnya ALLAH ke Langit Bumi (2/2)

By nadiyyah • Apr 17th, 2008 • Category: Aqidah

Setelah mengetahui derajat khabar turunnya Allah ke langit dunia untuk mengabulkan do’a orang yang berdo’a, memberi orang yang meminta dan mengampunkan orang yang memohon ampun pada sepertiga malam yang terakhir, lalu bagaimana keterangan hadits yang di sisi lain sulit untuk dipahami? Bagaimana syarah / keterangan hadits ini menurut para ulama’? Dan apa pula fiqih yang terkandung di dalamnya?


2 Syarah Hadits

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

Para salaf, para imam dan para ahli ilmu dan hadits telah bersepakat
membenarkan dan menerima hadits ini. Barangsiapa yang berkata seperti
perkataan rasul, maka dia benar…

Dan Nabi mengucapkan hadits ini serta hadits-hadits semisalnya secara
terang-terangan, tidak mengkhususkan kepada sebagian atau menyembunyikan
kepada sebagian lainnya. Demikian pula para sahabat dan tabi’in, mereka
menyampaikan dan meriwayatkan hadits ini dalam berbagai majelis, baik
umum maupun khusus.

Hadits ini juga dihimpun dalam kitab-kitab induk Islam yang dikaji
dalam berbagai majelis, baik umum maupun khusus, seperti Shahih Bukhari,
Muslim, Muwaththa’ Malik, Musnad Imam Ahmad, Sunan Abu Dawud, Tirmidzi,
Nasa’i dan semisalnya.

Namun barangsiapa yang memahami hadits ini atau hadits-hadits sejenisnya
dengan pemahaman yang Allah sucikan darinya, seperti menyerupakan-Nya
dengan sifat makhluk, dan menyifatinya dengan kekurangan, maka dia
telah salah.

Oleh karena itu madzhab salaf meyakini dalam sifat ini dengan menetapkan
sifat-sifat bagi Allah dan tidak menyerupakannya dengan makhluk. Karena
Allah disifati dengan sifat-sifat yang terpuji dan suci dari penyerupaan
dengan makhluk-Nya.15

Imam Ibnu Abdil Hadi berkata,

Ketahuilah bahwa salafus shalih dan orang-orang yang meniti jalan
mereka telah bersepakat untuk menetapkan turunnya Allah setiap malam
ke langit dunia. Demikian pula mereka bersepakat menetapkan sifat
datang dan semisalnya dari sifat-sifat yang telah ditetapkan dalam
Al-Qur’an dan hadits tanpa tahrif, ta’thil, takyif dan tamtsil.

Dan tidak ada seorang ulama salaf-pun yang mentakwil satupun darinya.

Adapun kaum Mu’tazilah dan Jahmiyah, mereka menolak dan tidak menerimanya.
Dan hadits Nuzul mutawatir dari Rasulullah.16

Imam Al-Ajurri berkata,

Iman dengan ini wajib, tetapi tidak boleh bagi seorang muslim untuk
bertanya, “Bagaimana Allah turun?” Dan tidak ada
yang mengingkari ini kecuali kelompok Mu’tazilah. Adapun ahli haq,
mereka mengatakan, “Beriman dengannya adalah wajib tanpa
takyif
(menanyakan bagaimananya, seperti apa -red. vbaitullah).”,
sebab telah shahih sejumlah hadits dari Rasulullah bahwasanya Allah
turun ke langit dunia setiap malam
.”

Orang-orang yang meriwayatkan hadits ini kepada kita, mereka pula
yang telah meriwayatkan hadits-hadits tentang hukum halal haram, shalat,
zakat, puasa, haji dan jihad. Maka, sebagaimana para ulama menerima
semua itu, maka mereka juga menerima hadits-hadits ini. Bahkan mereka
menegaskan,

“Barangsiapa yang menolaknya maka dia adalah sesat dan keji.”

Mereka waspada darinya dan memperingatkan umat dari penyimpangannya.17

Imam Ibnu Khuzaimah berkata,

“Bab penyebutan hadits-hadits yang shahih sanad dan matan-nya.
Para ulama Hijaz dan Iraq meriwayatkan dari Nabi tentang turunnya
Allah ke langit dunia setiap malam. Kita bersaksi dengan persaksian
seorang yang menetapkan dengan lisannya dan membenarkan dengan hatinya
penuh keyakinan terhadap hadits-hadits seputar turunnya Allah, tanpa
membagaimanakan sifatnya, sebab Nabi kita tidak menyifatkan (menerangkan
bagaimananya -red. vbaitullah) kepada kita tentang sifat turunnya
Allah ke langit dunia, tetapi hanya memberitakan kepada kita bahwa
Dia turun. Sedangkan Allah dan Nabi-Nya tidak mungkin lalai untuk
menjelaskan sesuatu yang dibutuhkan kaum muslimin dalam agama mereka.

“Maka kita membenarkan hadits-hadits ini yang berisi penetapan
turunnya Allah tanpa menyulitkan diri untuk membagaimanakan sifat
turun-Nya, lantaran Nabi tidak pernah menerangkan keada kita tentang
sifat turunnya Allah.”
18

Imam Ibnu Abdil Barr berkata,

Mayoritas imam Ahli Sunnah berpendapat bahwa Allah turun sebagaimana
dikhabarkan oleh Rasulullah, mereka membenarkan hadits ini dan tidak
membagaimanakannya.19


3 Fiqih Hadits

Hadits ini memiliki beberapa faedah yang banyak sekali. Dalam kitabnya
Al-Kawasyif, hal. 451-454, Syaikh Abdul Aziz Al-Muhammad As-Salman
dapat menarik 38 faedah dari hadits di atas, di antaranya:

  1. Ketinggian Allah di atas ‘Arsy-Nya
    Dalam hadits terdapat faedah berharga tentang sebuah aqidah yang banyak
    dilupakan oleh mayoritas kaum muslimin saat ini yaitu tentang ketinggian
    Allah di atas langit. Hal itu diambil dari lafadz “turun”
    karena makna “turun” dalam bahasa diambil dari atas
    ke bawah, bukan sebaliknya.
    Imam Utsman bin Sa’id ad-Darimi berkata,

    Hadits ini sangat pahit bagi kelompok Jahmiyah dan mematahkan faham
    mereka bahwa Allah tidak di atas ‘Arsy tetapi di bumi, sebagaimana
    Dia juga di langit. Lantas bagaimanakah Allah turun ke bumi kalau
    memang Dia sendiri sudah di atas bumi? Sungguh lafadz hadits ini sudah
    membantah faham mereka dan mematahkan argumen mereka. 20

    Imam Ibnu Abdil Barr berkata,

    Dalam hadits ini terdapat dalil bahwasanya Allah berada di atas langit,
    di atas ‘Arsy sebagaimana dikatakan oleh para ulama. Hadits ini termasuk
    salah satu hujjah Ahli Sunnah terhadap kelompok Mu’tazilah dan Jahmiyah
    yang berpendapat bahwa Allah ada di mana-mana, bukan di atas ‘Arsy.21

  2. Menetapkan sifat “kalam” (berbicara) bagi Allah
    Faedah ini diambil dari kandungan hadits,

    “Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku kabulkan…”

    Sifat “kalam” merupakan salah satu sifat yang sempurna
    dan hakiki (bukan majaz) bagi Allah. Banyak sekali dalil yang mendukungnya,
    salah satunya adalah firman Allah,

    Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (QS.
    An-Nisa’: 164)
    .

    Pernah dikisahkan bahwa sebagian Mu’tazilah pernah datang kepada Abu
    ‘Amr bin Al-’Alaa’, salah seorang pakar qira’ah,

    Saya ingin agar anda membaca ‘wa kallamallaha muusa takliimaa’22 (pada An-Nisa’: 164 di atas -red. vbaitullah). Abu ‘Amr lantas menjawab,

    Taruhlah aku membaca ayat ini seperti itu, lantas apa yang akan kau
    perbuat dengan firman Allah,

    Dan tatkala Musa datang untuk (munajat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya. (QS. Al-A’raf: 143).

    Akhirnya, seorang Mu’tazilah itu diam seribu bahasa!23

  3. Keutamaan sepertiga malam terakhir
    Malam hari adalah saat keheningan hati, ketenangan, keikhlasan, di
    mana saat itu manusia dalam kelelapan tidur. Oleh karenanya, doa pada
    saat itu mustajab, terutama pada malam terakhir. Allah berfirman,

    Mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. (QS. Adz-Dzariyat: 17).

    Nabi juga bersabda,

    Dari Abu Umamah, (ia) berkata: Ditanyakan kepada Rasulullah, “Doa
    apakah yang paling mustajab?” Beliau menjawab,

    Akhir malam dan penghujung shalat lima waktu.24

    Imam Abu Bakar Ath-Thurthusi berkata dalam Ad-Du’a Al-Ma’tsur
    wa Adabuhu
    , hal. 68,

    Sebagai penutup bab ini, tidak pantas seseorang yang butuh kepada
    Allah
    kemudian dia tidur di waktu malam terakhir
    .25

    Maka pergunakanlah kesempatan berharga ini -wahai saudaraku- untuk
    memperbanyak doa, istighfar dan taubat sebelum maut menjemputmu.

    Gunakanlah waktu luangmu untuk memperbanyak shalat

    Barangkali kematianmu datang tiba-tiba secara cepat

    Betapa banyak orang yang sehat wal afiat, tiada cacat

    Jiwanya yang sehat melayang cepat.


Catatan Kaki

…15
Syarah Hadits Nuzul, hal. 69-70.
…16
Ash-Sharimul Munki, hal. 229.
…17
Asy-Syari’ah 2/93 -Tahqiq: Walid bin Muhammad-
…18
Kitab At-Tauhid wa Itsbat Shifat Ar-Rabb, hal. 125 -Tahqiq:
Muhammad Khalil Harras-.
…19
At-Tamhid, 3/349.
…20
Naqdhu Utsman bin Sa’id ‘Ala Al-Mirrisi Al-Jahmi Al-Anid,
hal. 285.
…21
At-Tamhid, 3/338 dan lihat pula Kitab At-Tauhid,
hal. 126 oleh Imam Ibnu Khuzaimah; Dar’u Ta’arudzil Aqli wa
Naqli
, 7/7 oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
…22
Dengan menashabkan (memfathahkan) huruf Ha pada lafadz Allah, agar
supaya yang berbicara (subyek) adalah Musa, bukan Allah.
…23
Sebab kata “Rabbuhu” dalam ayat di atas mesti dan
jwajib sebagai subjek, tidak mungkin diubah sebagai obyek sebagaimana
tertera dalam kaidah ilmu nahwu. Lihat Syarh Qathr Nada,
Imam Ibnu Hisyam, hal. 182-183.
Lihat kisah ini dalam Syarh Aqidah Ath-Thohawiyah 1/177 oleh
Ibnu Abil Izzi Al-Hanafi, Tahqiq Syu’aib Al-Arnauth.
…24
HR. Tirmidzi: 3499 dan dihasankan oleh Imam Tirmidzi dan
Al-Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi 3/442.
…25
Dinukil dari Bahjatun Nazhirin 2/591-592 oleh Syaikh Salim
Al-Hilali.

Dikutip dari majalah Al Furqon 03/IV/1425H hal 13 - 14 dan hal. 17.

Tagged as:

Leave a Reply