.. إِنَّكَ لا تَهدى مَن أَحبَبتَ وَلٰكِنَّ اللَّهَ يَهدى مَن يَشاءُ ۚ وَهُوَ أَعلَمُ بِالمُهتَدينَ ..

"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu sayangi, tetapi Allah memberi petunjuk
kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk." (AlQasas 28: 56)

Matahari Mengelilingi Bumi

By nadiyyah • Apr 15th, 2008 • Category: Fatawa

BENARKAH BUMI MENGELILINGI MATAHARI?

Oleh: Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-’Utsaimin rahimahullah

Dhohir dalil-dalil syar’I menetapkan bahwa mataharilah yang berputar mengelilingi bumi dan dengan perputarannya itulah yang menyebabkan terjadinya pergantian siang dan malam dipermukaan bumi, tidak ada hak bagi kita untuk melewati dhohir dalil-dalil ini kecuali dengan dalil yang lebih kuat dari hal itu yang memberi peluang bagi kita untuk mentakwilkan dari dhahirnya. Diantara dalil-dalil yang menunjukkan bahwa matahari berputar mengelilingi bumi sehingga terjadi pergantian siang dan malam adalah sebagai berikut:

1.Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman tentang Nabi Ibrahim akan hujjah-nya terhadap orang-orang yang menentang Rabb, firman-Nya:

??????? ?????? ??????? ??????????? ???? ??????????? ?????? ????? ???? ??????????? …(258) ???? ??????.

“…sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia (matahari) dari barat…” (QS. Al-Baqoroh: 258).

2.Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman tentang Nabi Ibrohim:

???????? ????? ????????? ????????? ????? ????? ?????? ????? ???????? ???????? ???????? ????? ??? ?????? ?????? ??????? ??????? ??????????? (78) ???? ???????.

“Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata:’Inilah Rabku, ini yang lebih besar’, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata:’Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan” (QS. Al-An’am: 78).

Jika Allah menjadikan bumi mengelilingi matahari, niscaya Allah akan berfirman:”Ketika bumi itu hilang darinya (matahari, pent)”.

3.Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit condong dari arah gua mereka ke sebelah kanan dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu…” (QS. Al-Kahfi: 17).

Dalam ayat di atas Allah menjadikan yang condong dan menjauhi adalah matahari, itu adalah dalil bahwa gerakan itu adalah dari matahari, kalau gerakan itu berasal dari bumi, maka niscaya Allah akan berfirman:”gua mereka condong darinya (matahari)”. Begitu juga bahwa penyandaran terbit dan terbenam kepada matahari menunjukkan bahwa dialah (matahari) yang berputar meskipun dilalah-nya sedikit dibandingkan dengan dilalah firman-Nya:”condong dan menjauhi mereka”.

4.Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Dan Dia-lah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya” (QS. Al-Anbiya’: 33).

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata:”Berputar dalam satu garis edaran alat pemintal”. Penjelasan itu terkenal darinya.

5.Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat…” (QS. Al-A’rof: 54).

Allah menjadikan malam mengejar siang, dan yang mengejar itu yang bergerak dan sudah maklum bahwa siang dan malam itu mengikuti matahari.

6.Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dia menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS. Az-Zumar: 5).

Firman-Nya:”Menutupkan malam dan siang” artinya memutarkannya seperti tutup sorban menunjukkan bahwa berputar adalah dari malam dan siang di atas bumi. Kalau saja bumi yang berputar atas keduanya (malam dan siang) niscaya Dia berfirman:”Dia menutupkan bumi atas malam dan siang”. Dan makna firman-Nya:”…matahari dan bulan, semuanya berjalan” menerangkan apa yang terdahulu menunjukkan bahwa matahari dan bulan keduanya berputar dengan putaran yang semestinya, karena menundukkan yang bergerak dengan gerakannya lebih jelas maknanya daripada menundukkan yang tetap diam tidak bergerak.

7.Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya…” (QS. Asy-Syams: 1-2).

Makna “mengiringinya” adalah datang setelahnya, dan itu adalah dalil yang menunjukkan atas berjalan dan berputarnya matahari dan bulan atas bumi. Seandainya bumi yang berputar mengelilingi keduanya tidak akan bulan itu mengelilingi matahari, akan tetapi kadang-kadang bulan mengelilingi matahari dan kadang-kadang matahari mengiringi bulan, karena matahari kedudukannya lebih tinggi daripada bulan. Dan untuk menyimpulkan ayat ini membutuhkan penelitian.

8.Allah Azza wa Jalla berfirman:”Dan suatu tanda (kekuasaan Allah Yang Maha Besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan, dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapn Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya” (QS. Yaasiin: 37-40).

Penyandaran kata berjalan kepada matahari dan Dia jadikan hal itu sebagai kadar/batas dari Dzat yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Menunjukkan bahwa hal itu adalah jalan yang sesungguhnya dengan kadar yang sempurna, yang mengakibatkan terjadinya perbedaan siang dan malam dan batas-batas waktu. Dan penetapan batas-batas edar bulan menunjukkan perpindahannya di garis edar tersebut. Kalau seandainya bumi yang berputar mengelilingi, maka penetapan garis edar itu untuknya bukan untuk bulan. Peniadaan bertemunya matahari dengan bulan dan malam mendahului siang menunjukkan pengertian gerakan muncul dari matahari, bulan, malam dan siang.

9. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Abu Dzar r.a dan matahari telah terbenam. Artinya:”Apakah kamu tahu kemana matahari itu pergi?” Dia (Abu Dzar) menjawab:’Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu’. Beliau bersabda:”Sesungguhnya dia pergi lalu bersujud di bawah Arsy, kemudian minta izin lalu diizinkan baginya, hampir-hampir dia minta izin lalu dia tidak diizinkan. Kemudian dikatakan kepadanya; Kembalilah dari arah kamu datang, lalu dia terbit dari arah barat (tempat terbenamnya)” atau sebagaimana sabdanya1).

Firman-Nya:“Kembalilah dari arah kamu datang, lalu dia terbit dari tempat terbenamnya” sangat jelas sekali menunjukkan bahwa matahari itulah yang berputar mengelilingi bumi. Dengan putarannya itu terjadinya terbit dan terbenam (siang dan malam).

10. Banyak hadits-hadits yang menerangkan tentang penyandaran terbit dan terbenam kepada matahari, maka maka jelaslah bahwa hal itu terjadi dari matahari bukan dari bumi.

Boleh jadi disana masih banyak dalil-dalil lain yang tidak saya hadirkan sekarang, namun apa yang telah saya sebutkan sudah cukup. Wallahu Muwaffiq.

Dinukil dari: Majmu’ Fatawa Arkanil Islam, soal no: 16.

Catatan kaki:

1) HR. Bukhari no. 3199; Muslim no. 159.

taken from here

Tagged as: ,

One Response »

  1. asslamu’alaikum wa rohmatullohi wa barokatuh

    syarah saya terhadap hadits Abu Dzar diatas adalah:

    1. bahwasanya matahari sebagaimana makhluk Alloh yang lain adalah makhluk yang tunduk pada perintah Alloh.

    2. bahwasanya matahari (dan bulan) itu mengelilingi bumi. hal itu ditunjukkan dengan:

    - rosululloh bertanya: “tahukah kalian kemana matahari itu pergi?” ini menunjukkan bahwa matahari benar2 beredar, bukan seolah2 beredar hanya menurut pengamatan manusia dari bumi.

    - rosululloh bersabda: “matahari berjalan sehingga sampai di tempat peredarannya di bawah arsy…” menunjukkan bahwa tempat semula matahari adalah tempat yang berada jauh dari bawah arsy, kemudian dia beredar ke tempat di bawah arsy, kemudian kembali ke tempat semula alias berkeliling.

    - pada hari kiamat nanti, Alloh memerintahkan matahari untuk terbit dari arah barat, bukan memerintahkan bumi untuk membalikkan arah putarannya (rotasi).

    - fi’il ‘amr (kata kerja perintah) dalam hadits di atas ditujukan kepada matahari, bukan kepada bumi. jika keadaan yang sebenarnya adalah bumi mengelilingi matahari, berarti keduanya adalah makhluk yang durhaka pada Alloh. matahari durhaka karena diam, padahal Alloh memerintahkannya untuk beredar. sedangkan bumi telah melakukan/mengada-adakan suatu amalan yang tiada dari Alloh perintahnya.

    - jika menafikan sifat beredarnya matahari atau menakwilnya dengan peredaran semu, berarti kita juga harus menafikan atau menakwilkan sifat beredar ini untuk bulan karena keduanya disebutkan oleh Alloh secara bersamaan.

    - alhadits merupakan penjelasan dari alquran. sehingga dalil2 yang datang dari ro’yu akan bathil jika bertentangan dengan dalil2 dari nash. sebagaimana kaidah dalam ilmu tafsir “jika telah ada nash, maka tidak ada ijtihad”.

    Allohu ‘alam

    wassalamu’alaikum wa rohmatullohi wa barokatuh

Leave a Reply